Menyiatasi Rasa Bersalah Yang
Berlanjut
Disusun Oleh:
Nama :
Serius Kulka
NIM :
121510031
PROGRAM STUDI
ILMU SOSIATRI
SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA “APMD”
YOGYAKARTA
2014
A.
Pendahuluhan
Salah
satu penentu di dalam keberhasilan yang perkembangan adalah konsep diri. Konsep
diri (Sel f conept) merupakan suatu
bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia.
Konsep diri merupakan hal yang utama yang perlu dipahami karena menyangkut
pemahaman, keyakinan serta kepercayaan seseorang masing-masing tentang dirinya
akan mempengaruhi hubungan dengan orang lain. Konsep diri” semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui dalam orang yang lain, termasuk
persepsi individu atau kelompok
–kelompok akan sifat dan kemampuan, interaksi dengan pengalaman dan objek serta
keinginannya yang sudah di tentukan
tetapi dalam anak-anak remaja sekarang ini banyak bergaul dengan teman-teman
yang lain maka banyak masalah terjadi dilingkungan sekolah maupun di luar sekolah,orang
tua mereka memberikan nasihat terhadap anaknya tapi,anaknya belum mengerti
nasihat dari oran tua karena dia banyak emosional terhadap teman maupun orang
tua,dan guru dll.
Konsep
diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi
orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk
berkembang yang pada akhirnya memnyebabkan iya sadar akan keberadaan dirinya.
Perkembangan yang langsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri
individu yang bersangkutan. Perasaan induvidu bahwa ia tidak mempunyai
kemampuan yang iya miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung pada
cara individu maupun kelompok harus memandang kualitas kemampuan yang dimiliki.
Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit
untuk dilakukan, maka dari itu sengatlah penting untuk seseorang perawat
memahami konsep diri.
Memahami
diri sendiri terlebih dahulu baru bisa memahami klien. Masalah merupakan
sesuatu yang menghambat, merintangi, atau mempersulit seseorang atau masih anak-anak
remaja mencapai maksudkan dan tujuan tertentu yang diinginkan itu.Kondisi
bermasalah dengan demikian mengganggu dan dapatkan merugikan individu-individu atau
juga kelompok-kelompok maupun lingkungannya.
B. B. Rumusan
Masalah
C. C. Pembahasan
Analisis Masalah adalah,dalam anak-anak remaja Adalah:
Siswa SMA berada dalam masa remaja mencakup kematangan yang mental, perilaku yang berbeda dengan
emosional, sosial, dan fisik yang mereka lakukan dalam kehidupannya bergaul
dengan sekelompok temna-teman yang lain untuk menkonsumsi minuman keras maupun
narkoba,sex,dll . Masa remaja ditandai oleh perubahan-perubahan psikologis dan fisik,
yang pesat. Remaja telah meninggalkan masa yang anak-anak, tapi belum menjadi
orang dewasa. Remaja berada dalam masa peralihan atau transisi. Remaja
mengalami berbagai masalah-masalah sebagai akibat perubahan-perubahan itu dalam
interaksinya dengan sekelompok
lingkungan. Sebagian masalah-masalah itu berkaitan dengan dinamika hubungan
remaja dan orang tua-Nya.
Memandangkan bahwa isu utama relasi orang tua
dan remaja adalah masalah otonomi dan kedekatan. Bahwa selain memasuki dunia
yang terpisah dengan orang tua sebagai salah satu tanda perkembangannya, remaja
juga menuntut Ekonomi dari orang tuanya.
Remaja ingin memperlihatkan bahwa merekalah yang bertanggungjawab atas
keberhasilan dan kegagalan mereka, sebagian mereka menolak bantuan dari orang
tua. EKonomi terutama diraih melalui reaksi orang-orang dewasa terhadap
keinginan mereka untuk memperoleh kendali atas dirinya. Orang tua yang
bijaksana, dengan demikian, akan melepaskan kendali di bidang-bidang di mana
anak remajanya dapat mengambil keputusan yang masuk akal sambil tetap terus
membimbing.
Dalam meraih atau kesuksesan, kedekatan
dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu pengembangan kompetensi sosial
dan kesejahteraan sosial remaja, seperti harga diri, penyesuaian emosi, dan
kesehatan fisik. Artinya, selama masa remaja keterkaitan dan kedekatan dengan
orang tua sangat membantu pengembangan bidang pribadi dan sosial remaja. Dalam
arti sebaliknya, kurangnya atau pas itu akan menimbulkan masalah otonomi yang
disertai akibat-akibat psikologis dan sosial negatif pada diri remaja sendiri.
Sekarang ini Banyak remaja yang ingin mandiri. Mereka berkeinginan
mengatasi masalahnya sendiri. Meskipun begitu, jiwa para remaja itu membutuhkan
rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua. Hal ini mengisyaratkan bahwa masalah-masalah
remaja yang disebabkan oleh kurangnya pengalaman belajar dan kekuasan dalam
kehidupan masa anak-anak, wawasan dan informasi tentang tingkah laku yang
seharusnya mereka ambil dapat diatasi dengan mudah, namun masalah yang
bersumber dari hubungan emosional dengan orang tua memerlukan pengertian dan
bantuan dari orang tua sendiri ataupun dari keluarga lain. Kurang terpenuhinya
kebutuhan rasa aman dari orang tua merupakan salah satu sumber masalah lemahnya
kemandirian anak remaja. Masalah semacam ini dapat dientaskan dengan bantuan
orang tua sehingga masalah-masalah yang lebih ringan dapat diselesaikan sendiri
oleh sang anak.
Tentang
Teori Dalam hal ini bahwa, apa yang
dialami L(29).Sesuai dengan teori Oleh
Sherif & sheriff(1956) bahwa sikap dapat berubah karena kondisi dan
pengaruh yang diberikan. Sebagai hasil dari belajar sikap tindaklah terbentuk
dengan sendirinya karena karena pembentukan sikap senantiasa akan berlangsung
dalam interaksi manusia berkenanan dengan obyek yang tertentu. Lebih
tegas,menurut Bimo Walgito(1980)bahwa pembentukan dan perubahan yang sikap
akan ditentukan oleh dua faktor yaitu:
Ø
Faktor Internal(Individu itu sendiri),yaitu cara individu dalam menanggapai dunia
luarnya dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau
ditolak.
Ø Faktor
eksternal,yaitu keadan-keadan yang ada di luar individu yang merupakan
sitimulus untuk membentuk atau mengubah sikap.
Sementara itu
Mednick,Higgins & Kirschenbaum (1975)menyebutkan
bahwa pembentukan sikap dipengaruhi oleh tiga faktor,yitu :
§ Pengaruh
sosial seperti Norma dan kebudayaan
§ Karakter
keperibadaian individu
§ Informasi
yang selama ini diterima individu
Ketiga
factor ini akan berinteraksi dalam pembentukan sikap.Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembentukan dan perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi
oleh faktor yang ada dalam diri individu dan faktor di luar diri individu yang
keduanya saling berinteraksi.Proses ini akan berlangsung selama perkembangan
individu.Dalam paparan berikutnya akan dibahas teori-teori sikap itu dibentuk
dan diperoleh yang akan menjelaskan bagaimana sikap itu dibentuk dan peroleh
a) D,Teori-TeoriTentang
Pembentukan Dan Perubahan Sikap
1)
Teori
belajar dan penguatan
Teori ini berasumsi
bahwa sikap merupakan respon-respon yang dipelajari terhadap rangsang(stimulus)tentu.Asumsi
ini mengarahkan fokus teori ini adalah mengali sifat dari stimulus yang
mengarahkan individu mengembangkan dan berpegang pada sikap-sikap tertentu.
Bagaimana proses belajar yang dialami individu dalam pembentukan sikap ditunjukkan
oleh riset Arthur Staats dengan
mengunakan prosedurn Dassiical Conditioning seperti yang dilakukan oleh
Pavlov.Bagai Staats ,sikap adalah ekuivalen dengan suatu respon bersyarat yakni
suatu yang dapat ditimbulkan dengan mengenalkan suatu rangsang bersyrat.
Keutamaan Classical Conditioning sebagai suatu mekanisme bagi pembentuk sikap positif
dan negative nama-nama Negara (swedia dan
plandia), nama-nama orang Tom dan Bill)yang sebelumnya diangkap positif
atau Negatif. Proses penghargaan(reward)dan
hukum(punishment) adalah contoh pendekatan tori belajar lain, yang berpendapat
bahwa factor utama yang mempengaruhi perolehan dan pemeliharaan atas
sikap-sikap tertentu berhubungan dengan tingkat dimana sikap secara verbal
maupun non verbal dikuatkan oleh orang lain sesuatu yang perlu dicatat adalah
bahwa baik dalam teori belajar maupun teori penguatan,maka orang-orang tersebut
umumnya mempunyai kontak langsung dengan obyek sikap atau paling tidak dengan
table-tabel verbal bagai obek tersebut (seperti pada pencobaan Staats). Tetapi
dalam banyak hal seseorang tidak hanya mempunyai kontak,nyata dengan obyek
sikap,melainkan juga.Menerima menguataan secara tidak langsung.
2)
Teori
Konsestensi Kognitif
Berlawan dengan teori
belajar dan penguataan tentang sikap yang secara nyata mendasar berkaitan
dengan cara dimana seseorang memperoleh suatu sikap,maka teori konsistensi
Kgnitif memulai fokusnya pada. Keberadan sikap dan mencoba menjelasakan
bagaimana komponen-komponen-komponen sikap sesuai dengan satu sama lainnya
atau/dan sikap-sikap yang lain.Teori ini memandang manusia sebagai memproses
informasi yang aktif yang mencobah memahami seluruhnya atas apa yang mereka
rasakan,pikirkan dan berbuat dimana mereka secara aktif menyususn dan
menafsirkan dunia tersebut untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi yang
bisa terjadi di antara dan dalam sikap-sikap?
Ø Teori Keseimbangan Heider
Akar dari teori
konsistensi kgnitif adalah teori
keseimbangan dari Fritz Heider (Heider1946, 1958).Pada dasarnya teori
tersebut berkaitan dengan bagaimana sikap kita berkenan dengan orang-orang dan
obyek sikap yang konsisten
1. Unit Relationship Hubungan Unit
Elemen-elemen yang
melibatkan dalam hubungan diperspesi saling memiliki.Biasa ini berlangsung
karena prinsip kesamaan,kedekataan set, dan pengalaman masa lalu.
Hubungan
unit terdiri dari dua tipe,yaitu :
o
Tipe U :jika dua elemen dipadang saling
memiliki,
o
Tipe bukan U :jika elemen-elemen
tersebut tidak saling memiliki,
2.
Affective Relationship
(hubungan sentiment)
Penelaian
seseorang terhadap sesuatu (termasuk rasa suka)Hubungan sentiment terdiri dari
:
o
Tipe L
:Penilaian Positif
o
Tipe DL :Penilaian Negatif
Keadaan
seimbangan menurut Heider adalah: suatu keadaan dimana elemen-elemen saling
berhubungan satu sama yang lain secara harmonis. Dalam hubungan dua
pihak,keadaan seimbang terjadi jika hubungan antara kedua elemen itu semuanya
positif atau semua negative.
b)
Teori
Disonansi Kognitif
Teori disonansi Kognitif dikemukakan oleh Leon Frestinger (1975).Pandangan dasar dari teori ini
adalah jika seseorang mempunyai dua kognisi (Ide-ide dan pikiran-pikiran)
secara simultan dan saling berkontraksi,maka orang tersebut akan mengalami
disonasi kognitif.Misalnya seorang yang merokok yang mengetauhi bahaya merokok
yang medapat mengakibatkan kanker paru-parukarena itu membuat keadaan disonasi.
Disonasi menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang mendorong seseorang
mengurangi disonasi tersebut adalah :
§ Mengubah
elemen tingkah laku.Misalnya seorang merokok yang mengetahui bahaya merokok
yang dapat mengakibatkan kanker paru-paru,maka untuk menghilangkan disonasi
merokok itu berusaha tidak merokok lagi.?
§ Mengubah
elemen kgnitif lingkungan :Misalnya meyakinkan
teman-temannya/sudarah-sudarahnya bahwa merokok itu tidak akan menyebabkan
kanker paru-paru lagi.?
§ Menambah elemen kognitif baru.Missalnya
mencari mendapat teman lain yang mendukung pedapat bahwa merokok tersebut tidak
akan menyebabkan kanker paru-paru lagi, karena sudah melepaskan dari merokok.?
Sebagai suatu ilustrasi
tentang bagaimana terjadinya keadaan
disonasi,dibahwa ini dipaparkan suatu eksperimen ini,subyek-subyek
diharapkan pada situasi percobaan yang
sangat menyemukan. Kemudian sesudah mendapat terament tersebut disuruh/diminta
untuk memberitauh subyek pencobaan mendukung suatu pendapat yang jelas berlawanan
dengan apa yang mereka percayai.?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar